• Pendidikan Kewarganegaraan | Website Resmi Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan UNIMUDA Sorong

Kuliah Kepemimpinan Bersama Harun Gafur, S.Pd.,M.Pd

Kuliah Kepemimpinan Bersama Harun Gafur, S.Pd.,M.Pd

Kepemimpinan Trasformatif Berbasis Pancasila Dan Berkarakter Ke-Indonesiaan

Harun Gafur, S.Pd., M.Pd

Dosen Program Studi PPKn, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIMUDA Sorong

Hiruk piruk pesta demokrasi di Indonesia melalui pemilihan umum yang insyaAllah pada tahun 2019 akan menandai pergantian pucuk pemimpin di masa reformasi. Presiden dan wakil presiden hasil pemilihan umum ini akan menjadi penerus nasib bagi bangsa hampir seperempat milyar penduduknya. Pemimpin dan kepemimpinan menjadi faktor kunci bagi keberhasilan atau sebaliknya keterpurukan sebuah bangsa karena pada mereka lah kendali bangsa berada. Lalu, bagaimanakah kepemimpinan ideal bagi Indonesia di masa depandalam menghadapi segala macam tantangan zaman? Kepemimpinan baru yang membawah Indonesia menjadi negara besar di dunia, diharapkan lahir melalui pemilihan umum 2019. Kepemimpinan ini bukanlah kepemimpinan transaksional yang muncul sebagai bentuk bargaining partai politik dalam menempatkan orang-orangnyapada pusat kekuasaan, akan tetapi para pemimpin yang memiliki dedikasi besar untuk mengubah kondisi bangsa dan negara menjadi satu kekuatan dunia yang disegani. Oleh karena itu kepemimpinan trasformatif menjadi satu pilihan bagi mewujudkan Indonesia baru yang memberi kemaslahatan bagi seluruh masyarakat.

Kepemimpinan yang ideal bagi masa depan Indonesia tidak cukup hanya dicirikan sebagai pemimpin yang mampu membawa kemaslahatan bagi masyarakat tetapi dia juga harus memiliki budi pekerti luhur. Pemimpin yang sukses pada zamannya namun ternyata dibalik itu telah melakukan berbagai macam kesalahan dan tindakan melanggar etika yang baru terbongkar ketika tidak berkuasa. Oleh karena itu pemimpin ideal adalah mereka yang mampu memimpin dengan sukses dan berkarakter mulia.

Kepemimpinan Trasformatif Berbasis Pancasila

Kepemimpinan transformatif merupakan salah satu tipe cara mengelola organisasi yang ideal bagi Indonesia masa depan. Kepemimpinan transformatif sering dipertentangkan dengan kepemimpinan transaksional. Kepemimpinan transformatif mempunyai kemampuan untuk menyamakan visi dan masa depan organisasi dengan bawahannya, serta meningkatkan kebutuhan bawahannya pada tingkat yang lebih tinggi daripada yang mereka butuhkan. Menurut Yammaniro dan Bass (1990), pemimpin transformatif harus mampu membujuk bawahannya melakukan tugas-tugasnya melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang besar. Lebih lanjut dikatakan bahwa kepemimpinan transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realisti, menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual, dan menaruh perhatian pada perbedaan yang dimilki bawahannya. Dengan demikian seperti yang diungkapkan Tichy dan Devanna (1990), keberadaan para pemimpin transformatif mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi atau pada tingkat individu. Kepemimpinan yang berkarakter luhur sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesaia mempunyai ciri-ciri karakter yang abadi dan universal seperti kejujuran, kedisiplinan, menghargai pluralisme, serta mempunyai simpati dan empat. Pemimpin yang berkarakter universal tersebut akan menjadi panutan bagi rakyatnya dan selanjutnya sangat berperan dalam membentuk karakter bangsa.Karakter merupakan perilaku yang dilandasi oleh nilai-nilai berdasarkan norma agama, kebudayaan, hukum/konstitusi, adat istiadat, dan estetika. Karakter kepemimpinan yang sesuai dengan identitas bangsa Indonesia adalah pemimpin yang mampu mengemban amanah ke-Indonesian, yang berlandaskan pancasila dan UUD 1945.

Dalam pembahasan kepemimpinan modern, kepemimpinan berlandaskan sila pertama Pancasila ini terkenal dengan sebutan spritual leadership, authentic and practical leadership, morality leadership, ataupun prophetic leadership. Inti dari semua itu, bahwa kepemimpinan adalah amanah dan pemberian dari Tuhan dan juga harus dipertanggungjawabkan kepadaNya dengan bukti dan hasilnya, yaitu kesejahteraan manusia dan alamnya. Dari sini, kepemimpinan berbasis Pancasila sudah menutup pitu bagi pemimpin yang tidak bertuhan, yang atheis, maupun agnostic dan tentunya yang tidak berpihak pada rakyat.

Selanjutnya, dalam Pancasila sila ketiga yang menjadi acuan bagi pemimpin dalam menjalankan roda pemerintahan yaitu bahwa kepemimpinan harus mampu menempatkan diri sebagai pemersatu, yang bisa menjejakkan kaki dimana-mana namun tetap satu kendali, yang bisa menjadi simbol kebersamaan dan persatuan. Sementara dalam sila keempat, kerakyatan yang adil dan beradab melandasi sifat kepemimpinan yang mampu membangun sistem yang demokratis dalam bernegara dan berbangsa, baik dalam aspek politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dan lain sebagainya sehingga tercapai tujuan nasional secara demokratis dan bermartabat. Terakhir, berdasarkan sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, bermakna bahwa kepemimpinan berbasis Pancasila mampu menciptakan keadilan hukum, keadilan ekonomi, keadilan politik, keadilan dalam pendidikan, dan keadilan sosial. Keadilan sosial dalam hal ini bermakna sebagai adil yang berdimensi sosial, dan adil yang berpihak kepada mereka yang termarginal atau terpinggirkan.

 

Kepemimpinan Trasformatif dan Berkarakter Ke-Indonesiaan

Kepemimpinan pemerintahan akan terbentuk, jika rasionalitas pemimpin dan masyarakat telah tercipta. Sifat jujur, terbuka, dan komunikasi langsung apa adanya, merupakan beberapa karakter yang harus dimiliki oleh kepemimpinan nasional yang efektif dan efesien dalam berbagai hal. Memelihara semangat yang tinggi, dan kegemaran untuk menyampaikan pertanggung-jawaban kepada rakyat tentang apa yang sudah dilakukan secara periodik, transparan dan akuntabel, adalah dua unsur penting yang perlu dibudayakan oleh kepemimpinan nasional.

Melihat kondisi bangsa Indonesia yang saat ini dijejali dengan beragam masalah negatif, maka untuk mewujudkan kepemimpinan yang memiliki karakter ke-Indonesiaan, semua pihak harus kembali pada fitrah perjuangan nasional, yaitu kembali menjadikan nasionalisme berdasarkan Pancasila sebagai motor perjuangan. Seluruh elemen berbangsa dan bernegara terutama para pemimpin harus mengupayakan agar perjuangan nasional kembali menunjukkan kekuatan dan membuat bangsa Indonesia berprestasi tinggi.Pemimpin dan pola kepemimpinan sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan sebuah bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki kepemimpinan yang efektif dan berkarakter. Tentu saja karakter bangsa Barat dan Timur termasuk Indonesia di dalamnya sangat berbeda. Nilai-nilai luhur yang diadopsi dan dikembangkan dalam kehidupan berbangsa akan membentuk karakter bangsa itu sendiri, yang membedakannya dangan bangsa lain.Pemimpin ideal bagi Indonesia di masa depan adalah mereka yang menunjukkan pola kepemimpinan transformatif. Kepemimpinan transformatif mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatan-pendekatan watak (trait) dan gaya (style).

Kepemimpinan di Indonesia juga harus memiliki karakter ke-Indonesiaan yang menjadi ciri khas bagi bangsa Indonesia dalam mencapai cita-cita menjadi negara yang bermartabat dan mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Kepemimpinan ini harus dilandaskan pada pandangan hidup bangsa yitu Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945. Karakter ke-Indonesiaan harus mencerminkan lima sila dalam Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan, serta Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Dengan demikian, kepemimpinan berkarakter ke-Indonesiaan akan  terwujud jika para pemimpin mengakui keesahan Tuhan; mampu menjunjung tinggi penegakan hak-hak asasi manusia; mampu mempersatukanrakyat Indonesia yang sangat beragam/plural; mewujudkan demokrasi ekonomi dan politik; serta mewujudkan keadilan disemua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.***

Top